by

Pdt.Dr. Anthonius Dan Sompe, M.Pd.K. : ” HINDARILAH DENDAM”. Refleksi dari Markus 6:14-29.

POSTKOTA.CO.ID – ORANG BENAR DIBUNUH KARENA DENDAM. Sejarah umum dan sejarah gereja telah mencatat hal ini. Bahkan masih berlangsung hingga sekarang. Orang benar sering menjadi korban dendam karena mengoreksi sesuatu (ajaran, aturan dan etika moral) yang salah. Apalagi kalau dirasakan mengusik kenyamanan dan kepentingan pihak tertentu. Demikian hal ini terjadi pada Yohanes Pembaptis yang telah menegur Herodes (raja setempat wilayah Galilea) yang telah mengambil Herodias isteri Filipus saudaranya. Mari kita berefleksi dari bagian Alkitab ini untuk menghindari dendam.

Pertama: SIAP DITEGUR. Dalam ayat 14-18 ada perkataan Yohanes: “tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu”. Tapi Herodes tidak siap ditegur bahkan ia menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya dalam penjara. Sikap seperti ini biasanya dimiliki oleh orang yang keras hati, merasa hebat, merasa berjasa dan merasa lebih tahu; Atau juga yang menganggap remeh ajaran, aturan dan nilai etika moral yang berlaku. Lebih berbahaya lagi jika ia memiliki otoritas (jabatan, kuasa, uang, pengetahuan), maka ia akan menggunakan orang lain untuk menyingkirkan orang yang menyampaikan kebenaran. Oleh sebab itu supaya kita terhindar dari dendam, kita harus siap ditegur.

Kedua: DENDAM MERENDA IKHTIAR MEMBUNUH (ayt 19). Dendam yang dibiarkan akan berubah menjadi niat untuk membunuh orang lain. Apakah karakternya, jabatannya, nama baiknya ataupun masa depannya. Tak heran ada orang yang suka menjatuhkan, suka merusak nama baik orang, suka menghalangi masa depan orang lain. Ternyata ujung-ujungnya adalah karena pernah ditegur atas sebuah kesalahan.

Ketiga: DENDAM MERUSAK HATI NURANI (ayt 20). Hati Herodes terombang-ambing, sekalipun ia senang juga mendengarkan Yohanes yang ia segani dan ketahui sebagai orang benar dan suci, sehingga ia melindunginya. Demikianlah dendam akan merusak hati nurani yang murni. Sekalipun kita mengetahui kebenaran, tapi kita tetap mendendam, maka hati nurani kita, tidak akan merasakan ketenangan. Oleh sebab itu supaya kita tenang, tidak terombang ambing, lepaskan pengampunan dan belalah orang benar. Dengan demikian hati nurani kita, tidak akan terus menerus mengalami kerusakan tapi pembaharuan. Sehingga ungkapan kita di hadapan Allah dan manusia “ya saya mengaku, bersedia dan berjanji dengan segenap hati”, menemukan penghayatannya yang terhormat.

Keempat: PENDENDAM SELALU MENCARI WAKTU PELAMPIASAN DENDAMNYA (ayt 21). Dikatakan bahwa Herodias isteri raja, menyimpan dendamnya untuk dilampiaskan. Pada akhirnya tiba kesempatan baginya, yakni di hari ulang tahun Herodes yang menjamu pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Alkitab mengungkapkan bahwa isteri seorang pejabatpun, yang seharusnya menjadi contoh dalam pelayanan, dapat menggunakan fasilitas jabatan suami, seperti pertemuan-pertemuan tertentu, untuk menyingkirkan orang yang tidak mereka sukai sebagai pelampiasan dendam. Oleh sebab itu berhati-hatilah, jabatan pelayanan, kapan saja dan di mana saja, dapat menjadi fasilitas/alat anggota keluarga kita, sebagai sarana penyaluran dendam menyingkirkan orang lain.

Kelima: KEBAIKAN DAN KEPOLOSAN HATI BISA DIPERALAT PENDEMDAM (ayt 22-25). Ketika dengan kepolosan hati anak gadis menari menuruti perintah ibunya dan ketika Herodes berbaik hati bersumpah memberikan apa saja yang diminta anak gadis Herodias itu karena telah tampil menari menyenangkan hatinya dan tamu-tamunya, maka kepolosan dan kebaikan hati mereka justeru diperalat/ dimanfaatkan oleh Herodias untuk menyalurkan kepentingan pribadinya. Demikian yang terjadi dalam pelayanan, kepolosan dan kebaikan hati kita dapat diperalat dan dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk untuk menyalurkan rasa dendam kepada orang lain. Oleh sebab itu, jaga kepolosan dan kebaikan hati kita supaya tidak diperalat/ dimanfaatkan orang lain.

Keenam: TAKUT KEHILANGAN JABATAN DAN POPULARITAS (Ayt 26-27). Raja yang melanggar sumpahnya, bisa kehilangan jabatan dan popularitas. Karena takut kehilangan semua itu, walau sedih, Herodes memerintahkan pembunuhan terhadap Yohanes dengan cara dipenggal. Demikianlah yang sering terjadi dalam kehidupan bersama. Karena takut kehilangan jabatan dan popularitas, orang rela menutupi sesuatu yang salah dan rela mengorbankan orang benar. Seharusnya, ia harus berani, sekalipun kehilangan jabatan, popularitas dan kekayaan, untuk membela kebenaran/ orang benar karena itu adalah panggilan imannya.

Ketujuh: DENDAM BAGAIKAN VIRUS BERJANGKIT MEMATIKAN (Ayt 28,29). Dendam Herodes dan Herodias sebagai generasi tua/orang tua berjangkit atau terinternalisasi pada anak dan orang sekitar. Seorang pengawal merasa tak bersalah, bahkan merasa hal itu sebagai tugasnya ketika memenggal dan membawa kepala Yohanes di sebuah talam kepada puteri raja. Selanjutnya gadis itu tanpa merasa terbeban memberikannya kepada ibunya. Jadi jika ada orang tua, generasi tua dan pemimpin menunjukkan sikap dendam, maka anak-anak, generasi muda dan orang sekitar akan terjangkiti dan merekapun akan mengambil bagian dalam perilaku yang sama. Oleh sebab itu, kita harus memutus mata rantai penyebaran virus dendam ini. Bagaimana caranya? Caranya hanya satu, yaitu kita semua harus “divaksin” dengan Kasih Kristus. Supaya tidak ada dendam di antara kita. Amin?

Diminggu Sengsara IV ini, mari kita hayati penderitaan Kristus. Jadilah kita orang yang suka ditegur. Jangan mendendam supaya kita tidak mengorbankan orang lain. Ingat dendam merusak hati nurani kita. Dan berhati-hatilah karena jabatan pelayanan bisa dipakai untuk menyingkirkan orang benar. Juga, jaga kepolosan dan kebaikan hati kita supaya tidak dimanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dan lebih terhormat lagi, jangan takut kehilangan jabatan, popularitas dan kekayaan untuk membela kebenaran/orang benar.

Jangan biarkan virus dendam ada dalam hati kita. Oleh sebab itu, jangan ijinkan hati kita dipengaruhi, dirasuki dan diintimidasi oleh apapun, dimanapun, bagaimanapun dan oleh siapapun. Sekalipun disertai iming-iming jabatan, popularitas dan kekayaan. Semua iming-iming itu, bagaikan pengawal pembawa “kepala Yohanes di atas sebuah talam” untuk menyenangkan hati pendendam.

Bersamalah menyuarakan kebenaran untuk mengoreksi apa yang salah, sekalipun harus menderita diperlakukan tidak adil, sebagaimana Yesus Kristus sekalipun harus menderita karena memihak kepada kebenaran Allah. Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi. Tuhan menyertai kita semua. Amin.

Selamat Menghayati Minggu Sengsara IV. Soli Deo Gloria.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed